Hallo! Kali ini saya akan bikin cerpen Persahabatan bergenre komedi horror. Cekidot!
GARA – GARA GOYANG OPLOSAN
Cahaya
matahari menyeruak menyinari bumi seolah menyilaukan mata siapapun yang
melihatnya secara langsung disertai suhu yang cukup tinggi menambah suasana kegerahan
disana. Keringat pun bercucuran membasahi seragam putih abu – abu 4 cowok yang
tengah berdiri di depan sekolah dengan senyum kemenangan mereka. Mereka
berhasil! Berhasil mengalahkan musuh mereka. Yap, tawuran lebih tepatnya.
Nampak seorang cewek berseragam putih abu – abu menghampiri ke-4 cowok itu
dengan senyum sumringah.
“El!” Seru cewek berambut panjang itu seraya menepuk pundak cowok
berambut keriting dan berkulit sawo matang yang akrab disapa El itu.
“Eh, Rhima. Ada apa?” Tanya El seraya membalikkan badannya.
“Nih,
buat lo! Sebagai tanda terima kasih udah bantuin gue balas dendam ke mantan gue
dan ganknya.” Bisik Rhima tepat di kuping sebelah kiri El sambil memberikan
amplop coklat pada El, lalu ia berlalu meninggalkan El dan 3 temannya.
“Thanks
ya!” Sahut El tersenyum manis sebelum Rhima menghilang dari pandangannya.
El
membuka amplop coklat itu seraya mengintip isinya yang berupa duit.
“Wah,
gajian nih!” Timpal cowok berkulit kuning langsat dan berpipi tembem di
sebelahnya seraya mengintip jumlah duit yang diterima sahabatnya ini.
“Hehe...
Ntar gue traktir lo sama anak - anak kok, Bagus.” Hibur El sambil menepuk
pundak sahabatnya yang disapa Bagus itu.
“Eh...
nggak usah! Itu kan buat nenek lo berobat!” Ujar cowok berkulit putih dan
bermata sipit.
“Nggak
apa – apa. Duitnya lumayan banyak loh, Ryan!” Elak El pada cowok yang akrab
disapa Ryan itu.
“Udah,
buat lo aja. Kita ikhlas bantuin lo, kok!” Kali ini cowok berambut mohawk dan
berkulit kuning langsat ini turut membenarkan ucapan Ryan.
“Iya,
bener tuh kata Romy!” Timpal Bagus seraya menyikut lengan cowok yang akrab disapa
Romy.
“Thanks, Bro!” Hanya kata – kata itu yang
keluar dari mulut El.
Mereka
pun melangkahkan kaki meninggalkan area depan sekolah mereka sembari merangkul
satu sama lain. Canda dan tawa pun ikut mengiringi perjalanan mereka.
Perjalanan
mereka terhenti di depan sebuah rumah mewah di kawasan elite di Jakarta. Romy
merogoh saku seragamnya, mengambil sebuah kunci. Lalu ia menyelipkan kunci itu
pada sebuah gembok yang menggantung pada pagar rumahnya dan mengajak 3 kawannya
masuk ke dalam rumah mewahnya itu.
“Rom,
minta minum dong! Haus!” Pinta Ryan, kegerahan.
“Oke!
Tunggu bentar, yah!” Romy berjalan ke dapur meninggalkan mereka.
Bagus
memperhatikan seisi rumah Romy. Terdapat sebuah foto Romy bersama kedua orang
tuanya terpampang jelas di dinding rumahnya. Lalu pandangannya tertuju pada
lemari kaca yang berdiri tegak di sebelah sofa yang ia duduki. Bukan karena
tinggi lemari kaca itu yang melebihi tinggi badannya, melainkan isinya. Ia
memicingkan mata kanannya kala mendapati beberapa botol antik yang tertata rapi
di dalam lemari itu. Beberapa di antaranya seperti botol alkohol. Ia heran,
apakah sahabatnya ini pemabuk? Ah, tidak mungkin! Selama bersamanya, ia tak
pernah melihat sahabatnya mabuk. Lagipula, hanya teman durhaka yang suudzon
sebelum mengetahui kebenarannya.
“Minuman
datang!” Seru Romy sambil membawa nampan berisi 4 cangkir teh dan meletakkannya
sesuai dengan posisi duduk ketiga sahabatnya itu.
Ryan,
El, dan Bagus menyeduh teh itu dengan penuh nikmat. Tangan mereka juga tak
luput dari sekaleng keripik singkong yang terletak di meja tamu.
“Teh
buatan lo enak juga!” Puji Ryan seraya tersenyum pada Romy. Sedangkan yang
dipuji hanya tersenyum.
“Oh
ya, toss dulu dong sebelum tenggukan terakhir!” Bagus mengingatkan kebiasaannya
bersama sahabat – sahabatnya sebelum minum.
“SAKEGIRO?
YEAH!!!” Ucap mereka berempat bersamaan dengan suara lantang, sebelum akhirnya
menubrukkan gelasnya masing – masing dan meminum sisa tehnya sampai habis tak
tersisa.
SAKEGIRO.
Nama yang diambil dari singkatan kata “Sadis, Kejam, Tragis, & Ironis” itu
merupakan sebuah julukan untuk gank ke-4 cowok populer yang terdiri dari Romy,
El, Bagus, dan Ryan ini. Semuanya berawal dari keseringan mereka berkumpul
untuk menghilangkan rasa penat yang berasal dari masalah mereka masing –
masing. Mereka cukup populer di seantero sekolah. Bukan karena sifat teladan
yang patut diacungi jempol, melainkan karena mereka sering berkelahi. Tidak
hanya di area sekolah saja, bahkan di luar sekolah juga. Namun, setiap tindakan
pasti ada alasannya, tak terkecuali hobi “berkelahi” mereka. Dan satu – satunya
alasan yang mereka adalah: untuk melindungi orang yang lemah. Mereka tak pernah
mencari masalah duluan dan orang lain lah dalang dibalik masalah itu yang
akhirnya mengakibatkan perkelahian. Ada beberapa sebab yang membuat mereka
terlihat sebagai sosok yang Sadis & Kejam
yang bernasib Tragis & Ironis.
Romy.
Cowok berkulit kuning langsat dan berambut mohawk ini merupakan orang terkaya
di sekolahnya. Awalnya banyak gadis – gadis yang terpesona oleh ketampanan dan
kekayaan yang menjadi nilai plus bagi dirinya. Namun, kenyataan itu berbalik
seketika saat Romy tergabung dalam gank yang terkenal suka berkelahi itu.
Alasan Romy bergabung dengan Bagus, El, dan Ryan karena dirinya merasa
kesepian. Ya, kedua orang tua Romy yang bekerja di Aussie membuat Romy merasa
kurang kasih sayang orang tuanya. Akhirnya, Romy memilih gabung dengan ketiga
sahabatnya itu untuk mendapat kesenangan dan kepuasan batin. Dengan tersenyum
dan tertawa lepas bersama 3 sahabatnya inilah Romy merasa bahagia dan tidak
kesepian lagi.
El.
Cowok manis ini terkenal cerdas di sekolahnya. Terbukti ia mendapat ranking 3
di kelasnya. Dengan bantuan beasiswa lah ia bisa masuk di sekolahnya. Ia
tinggal dengan neneknya di sebuah rumah yang terbilang sudah tak layak untuk
ditempati. Neneknya yang sering sakit – sakitan ini seolah membuatnya tergerak
untuk mencari nafkah. Hal itu dimanfaatkan oleh Rhima si cewek pembuat onar,
untuk membantunya menyelesaikan segudang masalahnya dengan berkelahi. Dan
dengan lugunya El menerima tawaran itu karena Rhima mengiming – iminginya
dengan duit. Ketiga temannya pun juga tak tahu, karena mereka mengira El yang
selalu ditindas oleh orang – orang tak bertanggung jawab itu. Selain itu, Romy
sering memberinya uang untuk memenuhi kebutuhan perekonomiannya. Hal itu tak
membuat Bagus dan Ryan iri, justru mereka ikut senang dan terkadang ikut
menyumbangkan uangnya. Mau tak mau El menerimanya, dan ia pun berjanji untuk
tidak mengkhianati sahabatnya ini.
Bagus.
Dulunya cowok berpipi tembem berparas imut ini terkenal playboy. Kebanyakan
mantan pacarnya terdiri dari kalangan anak kuliahan, karena dirinya menyukai
cewek yang dewasa. Tapi kata “playboy” sudah tak berlaku lagi baginya, karena
sejak bergabung dengan Sakegiro, ia sudah tak ingin pacaran lagi. Trauma. Hanya
itu alasannya. Meskipun mantan pacarnya banyak, ia tetap setia dalam menjalani
hubungan. Namun, satu kekurangan dari semua mantannya. Mereka sama – sama
matre’, bahkan beberapa dari mereka sempat selingkuh darinya. Hal itu membuat
Bagus anti pada cewek. Dan ia pun mencari kesenangan dan kepuasan dengan
bergabung bersama Romy, El, & Ryan. Bukan karena gay, tapi karena
persahabatan lah hal yang paling indah ketimbang pacaran.
Ryan.
Awal masuk SMA, dirinya kerap dijuluki “anak mami” oleh temannya. Saat
berangkat sekolah, ia selalu diantar mamanya dengan mobil. Oke, itu hal yang
wajar seperti pribahasa “Kasih ibu sepanjang masa”. Tapi yang menjadi ledekan
adalah ketika ibunya selalu mencium kening Ryan saat dirinya pamit untuk bersekolah.
Lebay memang, tapi itulah yang dialaminya. Hal itu sukses membuat Ryan sering
di-bully temannya. Lalu Romy, El, dan Bagus datang membela Ryan. Mereka
mengajak Ryan gabung di Sakegiro. Hal itu juga menguntungkan baginya, karena
sejak saat itu dirinya tidak dijuluki anak mami lagi. Dengan bergabungnya ia
dalam gank yang terkenal sadis dan kejam itu seolah membuatnya merasa bangga.
Mentari
pagi bersinar menyambut pagi yang cerah. Kali ini, Ryan bersyukur karena
mamanya tak bisa mengantarnya ke sekolah karena sibuk mengurusi arisan antar
tetangga yang akan diselenggarakan di rumahnya nanti sore. Ryan beranjak menuju
garasinya, mengambil motornya. Sial! Bensinnya habis! Terpaksa ia memutuskan
untuk naik angkot menuju sekolahnya, walau harus berdesakan dengan penumpang.
Ia mencegat sebuah angkot yang bertuju ke sekolahnya. Di dalam angkot Ryan
bertemu 9 cewek yang merupakan adik kelasnya yang tergabung dalam sebuah
komunitas pecinta Jepang, bernama D~VIENIGA’S yang merupakan singkatan dari
Drama, Movie, Anime, Manga, Song (Japan Lover). Komunitas ini cukup terkenal di
kalangan sekolah Ryan. Bahkan kebanyakan siswa menilai komunitas ini aneh,
lebay, dan tak berguna. Samar – samar, Ryan mendengar pembicaraan mereka:
“Minna
(guys), aku udah update drama jepang terbaru loh. Judulnya Ando Lloyd ~ A.I
Knows Love? yang dibintangi oleh Kimutaku dan Kou Shibasaki. Drama Jepang
bergenre science fiction gitu! Penasaran! Kapan – kapan nonton bareng yuk!”
Ajak Yuki menggebu – gebu.
“Kalo
aku sih dapet bocoran tentang dubber drama Jepang di Indonesia. Kalian pasti
tahu drama Hana Kimi kan? Dubbernya Ashiya Mizuki itu Dewi Arifiany &
Leony, kalo Sano Izumi itu Deden. Kalo profilnya sih, nggak tahu. Hehe...” Ujar
Kazuki disertai cengirannya.
“Nah,
kalo aku udah update movie jepang terbaru. Judulnya A Tale Of Samurai Cooking.
Movie ini bergenre Romance yang diperankan oleh Aya Ueto dan Kengo Kora. Kalo
nggak salah... rilisnya 14 Desember kemaren.” Ungkap Megumi.
“Eh,
aku dapet berita bagus yang pastinya bikin kalian kagum! Film thriller Indonesia dan Jepang
digabung! Judulnya
Killers. Ide cerita ini
dibuat oleh Ushiyama Takuji. Produksi
film Killers akan terbagi di
Indonesia dan Jepang dan produksi akan dipegang oleh Nikkatsu, PT Merantau
Films, dan Guerilla Merah Productions. Keren!“ Ujar Maruko
terkagum – kagum.“Kalo anime, masih yang terpopuler di Indonesia, yaitu Naruto. Setelah kematian Itachi, kali ini Sasuke akan balas dendam menghancurkan desa. Namun, Itachi hidup lagi! Disitu Itachi meyakinkan Sasuke dan menunjukkan jalan yang benar padanya, hingga membuat Sasuke galau apa ia harus menghancurkan desa atau tidak. Dan kata – kata Itachi yang lumayan menyentuh yaitu Apapun yang kau lakukan, aku akan selalu menyayangimu. Aw, so sweet!” Ujar Chizuka sambil menirukan quotes Itachi, tokoh anime Naruto.
“Anyway, kalian kan udah pernah baca manga Today, The Love Begin karya Minami Kanan. Ada berita bagus nih! Manga itu bakal difilmkan loh! Tokoh Hibino Tsubaki diperankan oleh aktris cantik Emi Takei, sedangkan Tsubaki Kyota diperankan oleh aktor cakep Matsuzaka Tori. Versi manganya aja keren, apalagi filmnya. Ya nggak?” Ujar Tsuki sambil cekikikan sendiri.
“Kalo aku dapet berita kurang menyenangkan nih dari dunia musik (song) Jepang. YUI keluar dari SONY MUSIC ENTERTAINMENT JEPANG, guys! Alasannya karena pihak sony tidak pernah mengijinkan YUI membuat musik yang persis seperti yang diinginkan YUI sendiri. Dan akhirnya YUI hengkang dari Sony Music dan memulai karirnya lagi dari nol sebagai vokalis band Flower Flower. Ia juga mengganti namanya menjadi Hana. Wah, sangat disayangkan yah, guys!” Ucap Hime dengan nada sedih.
“Kalo aku sih tentang idol grup bentukan Jepang yang lagi tenar di Indonesia, JKT48. Melody resmi menjadi kapten JKT48. Dan setlist teater JKT48 berubah menjadi Dareka No Tame Ni. Oh ya, dengar – dengar mereka bakal rilis film dengan judul Viva JKT48! Ada Kemal Pahlevi, komedian yang ikut berperan di film itu juga loh!” Ucap Ai menggebu – gebu.
“Sugoi (Dahsyat)! Berita kalian cukup menarik juga! Sankyuu! (Makasih)” Puji Senpai (senior) D~VIENIGA’S, Mizuni disertai senyumnya.
Oh, Sungguh! Ryan benar – benar tidak mengerti apa yang dibicarakan cewek – cewek fanatik yang duduk di sebelahnya. Lagipula menurutnya terlalu fanatik terhadap sesuatu itu tidak baik dan tidak ada gunanya. Ryan menyadari bahwa 9 cewek itu menatapnya heran. Angkot pun berhenti di depan sekolah mereka. Ryan bersama 9 cewek itu pun turun bersamaan.
“Eh, Ryan. Ngapain barengan sama 9 cewek fanatik yang alay itu?” Bisik Rhima sembari menunjuk 9 cewek yang tergabung dalam komunitas D~VIENIGA’S.
“Nggak. Cuma ketemu mereka di angkot doang, kok.” Ujar Ryan tenang.
“Asal kamu tahu aja ya. Kabarnya, si Chizuka itu nggak suka sama cowok, tapi dia sukanya sama tokoh kartun cowok lho! Terus Megumi sukanya ngelihatin cowok gay. Kalo yang namanya Tsuki, dia itu suka hal – hal berbau porno. Dan yang paling parah lagi si leader yang bernama Mizuni, dia itu suka ngelihat tawuran! Ih, nggak banget deh! Pokoknya kamu sama anak SAKEGIRO harus hati – hati sama mereka. Atau jangan – jangan, mereka mau adu domba gank kalian sama anak SMA lain biar tawuran?” Terka Rhima seolah membuat kuping Ryan panas mendengarnya.
“Masa sih?” gumam Ryan dalam hati.
Rhima memperhatikan ekspresi Ryan yang terlihat percaya dengan ucapannya barusan. Senyum licikpun tersungging di bibirnya. Ia pun semakin mendekatkan posisinya pada Ryan.
“Kamu cakep banget deh hari ini!” Pujinya sembari menjewel pipi Ryan.
Merasa risih dengan tindakan dan ucapan Rhima barusan, Ryan pun menjauh dari Rhima dan melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Di belakangnya, Rhima tampak cemberut karena dicuekin Ryan.
Pulang sekolah adalah hal yang paling ditunggu – tunggu oleh semua siswa, tak terkecuali Ryan, Romy, Bagus, dan El. Mereka memilih untuk berjalan kaki agar bisa lebih lama bersama – sama. Mereka melewati jalan raya yang ramai dengan banyaknya kendaraan bermotor. Nampak terlihat seorang wanita paruh baya sedang menunggu di trotoar hendak menyebrang. Romy, Bagus, Ryan, dan El yang terketuk hatinya pun menghampiri wanita itu dan membantunya menyebrang jalan.
“Makasih, cu!” Ungkap wanita paruh baya itu seraya tersenyum.
“Sama – sama, nek. Emang nenek mau kemana, Nek?” Tanya Romy lembut.
“Mau ngamen di jalan raya.” Ujar si nenek masih dengan ekspresi yang sama.
“Kami boleh ikutan nggak, nek?” Pinta Bagus.
Nenek itu mengangguk, mengizinkan mereka ikut mengamen dengannya. Sejurus kemudian, mereka mengikuti langkah si nenek dan turun ke jalan raya. Mereka mendatangi setiap kendaraan yang melintas disana, tepat saat terpaksa berhenti karena lampu merah pastinya.
Sebuah lagu terlantun dari bibir mereka. Mereka tak peduli suara mereka enak didengar atau tidak, karena mereka hanya ingin membantu orang. Hanya itu saja. Beberapa pengemudi mobil yang dikunjungi mereka kebanyakan hanya memberi uang sekitar seribu rupiah, bahkan recehan. Mereka memakluminya. Tapi ada seorang pria berkumis dan berambut pirang yang mengendarai mobil sport berwarna silver bernomor B 120 MAN yang dengan seksama mendengarkan lantunan lagu mereka hingga selesai. Tak lupa ia memberi jumlah uang yang lumayan besar untuk mereka, yaitu 2 lembar uang 50ribuan.
“Makasih, Pak!” Seru Ryan dan El bersamaan.
Pria itu tersenyum dan meninggalkan mereka. Setelah dirasa uangnya sudah cukup terkumpul banyak, si nenek mengajak mereka beristirahat di rumahnya yang sederhana dan dikelilingi pohon berbatang tinggi.
“Kalian baik sekali mau membantu nenek. Kalo perlu tahu, nama kalian siapa?” Tanya si Nenek tersenyum ramah.
Romy, Bagus, Ryan, dan El memperkenalkan identitas mereka secara bergiliran.
“Nama saya Suripah. Kalian bisa panggil saya Nek Suripah. Saya tinggal disini sendirian sudah hampir 70 tahun lamanya.” Kini giliran si nenek yang menceritakan kisah hidupnya.
Mereka berbincang agak lama. Sebelum akhirnya Romy mengeluarkan 5 botol antik yang berisi cairan berwarna coklat muda yang selalu ia bawa saat sekolah dan ia bagikan kepada 3 temannya plus seorang nenek yang ada di depannya ini.
“Oh iya guys! Nih minum dulu!” Ujarnya sambil meletakkan satu persatu botol itu.
“Ini minuman yang waktu itu lo kasih ke kita – kita waktu itu kan?” Tanya Bagus memastikan, yang dibalas anggukan oleh Romy.
“Nenek nggak ikutan minum bareng kita?” Tanya El seraya menyodorkan botol itu pada Nek Suripah.
“Maaf ya, nak. Nenek nggak terbiasa minum yang begituan. Nenek minum air putih aja.” Ucap Nek Suripah sembari menatap tajam Romy serta temannya, curiga. Entah apa yang ada di benaknya dan ia pun beranjak pergi mengambil air putih.
Samar – samar, Nek Suripah mengintip Romy dan kawan – kawan di balik tembok. Ia tak menyangka bahwa anak – anak yang ia kira baik ternyata suka minum.
“Opo orak eman duite, gawe tuku banyu setan. Opo orak mikir yen mendem, iku biso ngrusak pikiran. Ojok diteruske mendeme, mergo orak ono untunge. Yo cepet lerenono mendemmu, ben dowo umurmu. Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu! Emanen nyawamu ojok mbok terus terus, mergane orak ono gunane.” Nek Suripah menghampiri mereka sambil melantunkan sebuah lagu Bahasa Jawa berjudul Oplosan itu, seolah lagu itu ditujukan kepada anak SMA di rumahnya ini.
“Wah, suara Nek Suripah merdu banget!” Puji Ryan dengan lugunya.
Lalu setelah puas pesta minum, mereka pun tertidur pulas bahkan mengorok. Hal itu semakin menguatkan dugaan Nek Suripah bahwa mereka adalah anak – anak bandel yang suka minum. Waktu pun menjelang petang dan Nek Suripah membangunkan mereka.
“Lain kali, kami akan kesini lagi.” Ujar Bagus seraya mencium tangan Nek Suripah diikuti 3 temannya kala berpamitan pulang.
“Ya. Tapi kalian tidak boleh datang kesini malam hari.” Perintah Nek Suripah.
“Memangnya kenapa, nek?” Tanya Romy penasaran.
“Ah, sudah. Tak perlu dijelaskan! Kalian tidak akan mengerti. Pulanglah!” Nek Suripah pun menutup pintu, meninggalkan ke-4 bocah SMA yang masih mematung di depan rumahnya.
Keesokannya menjadi hari yang kelam bagi gank SAKEGIRO. Mereka baru saja mendapat surat skorsing dari kepala sekolah karena ketahuan berkelahi dengan mantan pacar Rhima and the gank yang terekam kamera CCTV di gerbang sekolah. Selain itu, kesaksian Rhima juga dapat memperkuat bukti terjadinya perkelahian. Rhima, cewek yang mereka bela malah menusuk mereka dari belakang, dan itu disebabkan karena ia kesal dengan sikap cuek Ryan padanya waktu itu. Sungguh Tragis dan Ironis nasib mereka. Kini mereka pun pergi meninggalkan sekolah dengan penyesalan.
“Dasar nggak tahu terima kasih si Rhima! Udah kita bantuin ngehajar mantan pacarnya yang selingkuh, sekarang dia malah pengen ngejatuhin kita.” Geram El.
“Apa? Jadi salah satu dari mereka itu mantan Rhima? Kenapa lo bilang kalo mereka itu anaknya ibu yang punya kontrakan rumah lo dan mereka marah ke lo karena lo belum bayar uang kontrakan?” Tanya Ryan tak percaya.
“Maaf! Waktu itu gue terpaksa bohong, karena Rhima bilang pacarnya ngelakuin kekerasan juga ke Rhima. Dan bodohnya, gue langsung percaya aja tanpa ada bukti yang jelas.” Sesal El, wajahnya menunduk dan tak berani menatap mereka.
Ryan mengepalkan tangannya, kesal pada sahabatnya yang lugu ini. Dan ia melayangkan pukulannya kea rah El. Untung saja Romy dan Bagus sempat menahan tangan Ryan.
“Udah! Yang lalu biarkan berlalu. Lagian kita udah pada tau kan kelakuan busuk si Rhima?” Ucap Bagus menengahi mereka.
“Guenya juga yang salah. Waktu itu si Rhima gue cuekin. Abis dia ganjen banget jadi cewek! Mungkin karena itu dia yang awalnya pengen ngelindungi kita, tapi karena dianya kesel sama gue jadinya dia malah bocorin aja perkelahian itu.” Ryan memutar bola matanya seraya menghela nafas panjang, mencoba menahan emosinya yang memuncak dan memutar memori kejadian itu.
“Oke. Yaudah cukup saling menyalahkannya. Yang terpenting, kita sekarang fokus harus ngapain dalam mengisi hari – hari skorsing kita. Stop berantem, fokus belajar!” Romy memberi pencerahan disertai anggukan setuju ke-3 temannya.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Kali ini gank SAKEGIRO benar – benar kapok dengan skorsing yang mereka terima, dan mereka pun memutuskan untuk belajar bersama di rumah Nek Suripah, sesekali membantunya dalam hal apapun. Masih sampai setengah jalan, mereka melihat Nek Suripah hendak menyebrang jalan. Lalu ada sebuah truk melintas dan akan menabrak Nek Suripah.
“Nek Suripah, AWAS!!!” Seru mereka serempak.
Namun terlambat. Rupanya si pengemudi truk itu tak bisa mengendalikan laju kecepatannya dan melindas tubuh Nek Suripah. Truk itu tetap melaju kencang tanpa peduli dengan sekitarnya. Mereka pun geram dan melempari mobil itu dengan batu. Lalu pengemudi truk itu turun.
“Woy, bocah! Ngapain lu pada ngelemparin truk gua pake batu?” Tanya supir truk dengan wajah tanpa dosa.
“Bapak nggak lihat barusan nabrak orang?” El mulai terbawa emosi.
“Nabrak orang?” Tanya supir truk heran.
“Alaah, udah jangan pura – pura nggak tahu! Bro, kita hajar dia!” Seru Bagus dengan aksi siap bertarungnya.
Bagus, El, Romy, dan Ryan pun mengeroyok supir truk bersama. Sebelum akhirnya si supir berusaha menghindar.
“Oi, berhenti! Kalian kan berempat, nah gue sendirian! Nggak adil kan? Mending, lo ngelawan temen gue aja. Tuh!” Sang supir Nampak ketakutan. Dan dengan tidak elitnya ia menujukan masalahnya pada temannya. Ia menunjuk 9 preman berotot, brewokan, dan bertampang seram yang sedari tadi menyaksikan aksi pengeroyokan temannya yang dilancarkan 4 bocah SMA.
“Haiks… itu sih adil di bapak, nggak adil di kita!” Ujar Ryan. Kakinya mulai gemetaran.
“Hajar, Bos!” Seru sang supir truk pada 9 preman itu.
9 preman itu maju menghadap Ryan, Romy, Bagus, dan El dengan ekspresi siap bertarung dan mau tak mau 4 bocah yang tergabung dalam gank bertitel “Sadis, Kejam, Tragis, Ironis” itupun harus menghadapinya. Sementara sang supir truk malah duduk manis sambil menyaksikan tontonan gratis di depannya seraya cekikikan. Tak berselang lama, gank SAKEGIRO pun nampak kewalahan dan babak belur. Mereka terengah – engah dan tak sanggup lagi, mereka terlihat lemah bagi 9 preman yang jauh lebih ahli dan berpengalaman dalam soal berkelahi.
“Kalau 9 lawan 4 sih jelas yang menang udah pasti 9. Ayo kita berkelahi 9 lawan 9!” Suara seseorang di seberang sana seolah mengejutkan mereka, apalagi suara itu seperti suara seorang perempuan. Ya, pemilik suara itu adalah Mizuni, leader komunitas D~VIENIGA’S disusul dengan 8 temannya. Mereka datang mengenakan seragam beladiri Jepang, Karate.
“Huh, cewek ya? Oke, kita ladenin! Hitung – hitung ngasih pelajaran buat cewek yang sok kuat ini.” Ujar salah seorang preman.
Perkelahian pun berlangsung. Ryan, Romy, Bagus, dan El terkesima melihat kemampuan berkelahi 9 cewek di depannya ini. Bagaimana tidak, 9 cewek yang awalnya mereka kira alay, lemah, dan fanatik ini bisa berkelahi juga. Bahkan kemampuan mereka pun di atas rata – rata. Alhasil, 9 preman itu K.O dan langsung ngibrit bersama si supir truk.
“Arigatou gozaimasu!” Ucap gank SAKEGIRO sok jepang sambil mengacungkan 2 jempolnya, mengagumi kemampuan beladiri mereka.
“Douitamashite!” Jawab D~VIENIGA’S kompak.
“Kalian kok bisa sampai sini?” Tanya Bagus heran.
“Kami barusan selesai latihan karate. Tempatnya kebetulan di daerah sini.” Jawab Tsuki tersenyum sambil menunjuk tempat latihan karate, di sebelahnya terdapat sebuah tempat kursus Bahasa Jepang, dan di sebelahnya lagi Restoran Masakan Jepang.
“Wah, semuanya tentang Jepang ya?” Romy menatap tempat – tempat yang ditunjuk Tsuki seraya berdecak kagum.
“Ya karena 3 tempat itu milik kami, D~VIENIGA’S.” jelas Megumi tersenyum.
“Oh iya, kami tinggal dulu ya! Sepertinya pacar kami sudah menunggu disana.” Chizuka mengingatkan temannya sambil menunggu 9 cowok yang seumuran dengan mereka yang tengah berdiri di depan sepeda motornya.
Deg! Ucapan Chizuka tadi menyentak Ryan membuatnya teringat sesuatu. Ia ingat kata – kata Rhima yang membicarakan hal berbau negative tentang Chizuka, Tsuki, Megumi, dan Mizuni. Tapi kali ini omongan Rhima tidak terbukti, malah sebaliknya. Untung saja ia tak mudah percaya pada omongannya. Dan apa yang dilakukan serta dijelaskan oleh komunitas D~VIENIGA’S ini seolah membuktikan bahwa apa yang dilakukan komunitas mereka tidak selalu berdampak negative dan berlebihan. Justru banyak dampak positif, salah satunya mengadakan latihan karate, mempunyai kursus Bahasa Jepang, dan Restoran Masakan Jepang sendiri sudah membuktikan bahwa terbentuknya komunitas pecinta Jepang ini memiliki tujuan yang menguntungkan, tidak hanya mereka tapi juga orang lain. Salah, jika mereka menilai bahwa komunitas ini hanya komunitas alay belaka yang tak ada tujuan.
“Oh iya, Nek Suripah mana?” Ucapan Bagus seolah memecah keheningan pasca perginya D~VIENIGA’S.
“Tadi kan terkapar disini.” Gumam Romy sambil ikut mencari si nenek.
“Barangkali kondisinya nggak parah. Mungkin aja dia pulang ke rumah.” Sahut El mencoba positive thinking.
“Yaudah, kalo gitu kita coba aja ke rumahnya.” Usul Ryan yang disetujui ke-3 temannya.
Mereka berempat pun beranjak menuju rumah Nek Suripah. Sesampainya di depan pintu rumah Nek Suripah, Bagus mengetuk pintu terlebih dahulu. Tak ada jawaban. Ia pun menggerakkan gagang pintu yang rupanya tak terkunci. Mereka pun masuk ke dalam dan mendapati rumah itu kosong. Lalu mereka menemukan secarik kertas berisi tulisan di atas meja. Bagus pun membacanya diikuti yang lain :
Opo orak eman duite, gawe tuku banyu
setan. Opo orak mikir yen mendem, iku biso ngrusak pikiran. Ojok diteruske
mendeme, mergo orak ono untunge. Yo cepet lerenono mendemmu, ben dowo umurmu.
Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu! Emanen nyawamu ojok mbok terus terus,
mergane orak ono gunane.
“Apa
maksudnya ini?” Tanya Bagus kebingungan.
“Kalau
nggak salah, ini lagu Bahasa Jawa yang dinyanyiin Nek Suripah waktu itu, yang
artinya: Apa nggak sayang uangnya dibuat
beli minuman keras. Apa nggak mikir kalo mabuk bisa ngerusak pikiran. Jangan
diteruskan mabuknya, nggak ada untungnya. Cepat berhenti mabuknya, biar panjang
umur. Tutuplah botolmu, tutuplah oplosanmu! Sayangilah nyawamu, jangan
diteruskan. Karena nggak ada gunanya. Kurang lebih seperti itu.” Jelas Ryan
panjang lebar.
“Dalam
surat ini juga tertulis: Untuk bocah yang
sudah ku anggap sebagai cucuku, El, Romy, Bagus, dan Ryan. Apa hubungannya
dengan kita?” Kali ini El bertanya seolah menambah kerumitan maksud surat itu.
“Apa
mungkin gara – gara waktu itu gue bawa botol antik berisi teh kesukaan kalian
waktu itu? Maksud gue… mungkin aja Nek Suripah ngira minuman itu Oplosan.
Kalian inget kan waktu itu Nek Suripah nolak pas El nyodorin teh itu ke Nek
Suripah?” Romy mencoba menerka – nerka.
“Bisa
jadi!” Sahut El, Ryan, dan Bagus serempak.
“Kalian
ngapain malam – malam kesini? Bukannya nenek sudah peringatkan kalau malam –
malam jangan kesini?” Suara Nek Suripah mengagetkan mereka.
“Kami
hanya ingin melihat keadaan nenek saja. Hehe…” Sahut Bagus.
“Nenek
nggak apa – apa kok, cu. Nggak percaya? Nih, nenek buktiin pake goyangan. Lihat
ya!” Nenek Suripah pun mengambil laptop yang entah ia dapat dari mana,
sedangkan gank SAKEGIRO pun hanya bisa cengo mendengar ucapan nenek.
Nek
Suripah membuka salah satu video yang ia beri judul “Goyang Oplosan”. Dalam
video itu terlihat sekumpulan komedian berbaris rapi dan bergoyang. Nek Suripah
pun tak mau ketinggalan. Ia mulai mengikuti goyangan yang ditampilkan video
itu. Nek Suripah meletakkan tangan kanannya pada jidatnya, sedangkan tangan
kirinya di depan perutnya. Lalu ia mulai mencondongkan badannya ke belakang dan
menghadap membelakangi Ryan, Bagus, Romy, dan El yang masih memperhatikan goyangan
Nek Suripah ini.
Seketika mata Ryan, Bagus, Romy, dan El membelalak lebar.
Jantungnya berdegup kencang. Bukan! Mereka bukannya tak bisa menahan nafsu
untuk melihat goyangan Nek Suripah. Tapi…
“SE-SETAAAN!!!” Teriak mereka serempak dan lari sekencang –
kencangnya menjauhi Nek Suripah.
Kurang ajar! Apakah ini balasan mereka terhadap seorang
wanita paruh baya yang telah memperlakukan mereka dengan baik? Tidak. Bukan itu
masalahnya. Tapi mereka ketakutan karena pada punggung Nek Suripah berceceran
darah dan terdapat banyak ulat menggerogoti jantung dan paru -
parunya. Barulah mereka
mengerti bahwa Nek Suripah bukan manusia, melainkan sesosok makhluk halus.
Ryan, Romy, Bagus,
dan El terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Mereka akhirnya menemukan
tempat yang dipenuhi lampu penerangan. Tiba – tiba ada sebuah mobil sport
berwarna silver melaju kencang ke arah mereka, akan menabrak mereka, membuat
mereka berteriak histeris. Namun untunglah si pengemudi dapat mengendalikan
laju mobilnya lebih cepat hingga posisi mobil itu berhenti hanya berjarak 5 cm
dari kaki mereka.
“Kalian?” Pengemudi
mobil itu turun dan menghampiri 4 bocah di depannya ini, membuat mereka heran.
“Masih ingat dengan
saya?” tanyanya.
“Ya! Bapak yang
ngasih duit 100ribu pas kita ngamen di lampu merah kan?” Tebak Ryan.
“Ya, benar! Untung
saya bisa ketemu kalian lagi. Perkenalkan, saya Roman. Waktu itu saya tertarik
dengan suara kalian. Dan saya ingin kalian masuk ke manajemen saya. Kalian akan
menjadi grup vokal dan nanti manajemen saya yang akan mengorbitkan kalian untuk
bersaing di industri musik Indonesia. Apa kalian bersedia?” Tanya pria bernama
Roman itu memastikan.
Hening. Tak ada
jawaban. Mereka seolah tak percaya dan saling menatap wajah temannya masing –
masing. Namun sedetik kemudian, mereka pun mengangguk menyetujuinya.
Sebulan telah
berlalu dan masa skorsing mereka di sekolah sudah berakhir. Hari ini tepat hari minggu, hari libur bagi para anak sekolahan. Tepat di
hari inilah Romy, El, Bagus, dan Ryan menjalani debut mereka sebagai grup vokal.
Saat Pak Roman menanyakan apa yang cocok untuk nama grup mereka, dengan
serempak mereka menjawab “SAKEGIRO”.
“Nama itu kurang
cocok untuk nama grup vokal. Apalagi kata sake
itu dalam bahasa Jepang artinya sama dengan Oplosan.
Err... gimana kalau, Nu Dimension?” Usul Pak Roman. Romy, Ryan, Bagus, dan El
pun mengangguk setuju.
Debut pertama mereka
diadakan di sebuah studio musik yang ditayangkan setiap pagi di salah satu
stasiun televisi swasta. Panggung sudah ditata sedemikian rupa. Para pemain
musik nampak sudah siap mengiringi mereka melantunkan lagu. Host pun memanggil
nama “Nu Dimension” untuk tampil di depan para penonton.
Romy, Bagus, El, dan
Ryan membawakan lagu berbahasa Inggris berjudul Toxic milik Britney Spears. Mereka melafalkan part lirik secara
bergiliran. Karakter suara Romy yang terdengar serak dan seksi, suara Bagus
yang terdengar berat terdengar seperti desahan dan mampu melakukan screamo,
suara El yang terdengar lembut dan dapat menjangkau nada tinggi, dan suara Ryan
yang terdengar cempreng dan agak mirip suara Ryeowook SuJu. Mereka dapat
membawakan lagu Toxic yang notabene dinyanyikan cewek menjadi COWOK BANGET!
“Minna, coba lihat
deh! Itu kan Romy, Bagus, El, sama Ryan bukan? Mereka lagi nyanyi tuh!” Ujar
salah satu anggota D~VIENIGA’S, Kazuki di depan layar kaca televisi.
“Mereka performnya
keren! Berasa ngelihat film romance action gitu ya, mereka pada dipenjara gitu
pake baju tahanan, tangannya diborgol juga!” Seru Maruko yang pandangannya tak
lepas dari layar televisi.
“Wah, iya benar!
Suara mereka keren – keren ya! Baru kali ini aku lihat boyband nyanyi lagu rock
sekeren mereka di Indonesia! Apalagi ada screamonya!” ujar Hime terpesona.
“Wah, sepertinya aku
mulai menempatkan posisi idola buat mereka, setelah artis Jepang tentunya.
Mereka beruntung yah direkrut di manajemen Pak Ramon.” Timpal Ai seraya gigit
jari, kagum.
“Menurutku justru
Pak Ramon lah yang beruntung bisa bertemu dan ngerekrut mereka di manajemennya,
karena mereka itu berkualitas dan membawa warna musik baru di Indonesia!” Kali
ini Yuki berpendapat disertai anggukan setuju dari Chizuka, Mizuni, Megumi, dan
Tsuki.
Setelah beberapa
segmen, barulah Nu Dimension membawakan single mereka sendiri yang berjudul
“Luka Di Hatimu”.
~00~
Kini Romy, El, Bagus, dan Ryan
memulai karir mereka dengan nama Nu Dimension. Mereka telah berjanji akan
mengubah imej mereka yang awalnya suka berantem menjadi layaknya artis pada
umumnya yang dituntut profesional. Pujian dan sanjungan diterima mereka dari
kalangan teman sekolah, guru, hingga orang yang tak mengenal mereka yang
mengaku fans dari mereka. Seperti biasa Romy, El, Bagus, dan Ryan berkumpul dan
mereka memilih rooftop sebagai tempat nongkrong mereka dan selain itu sambil
melihat bulan purnama disana.“Nggak nyangka, akhirnya kita bisa beken kayak gini. Anyway, Nek Suripah apa kabarnya yak? Udah lama nggak ketemu. Kita harus berterima kasih ke beliau.” Ujar Ryan sambil memandang bulan purnama.
“Psstt... Lo lupa yak? Nek Suripah itu kan hantu!” Timpal Bagus sambil ngebekap mulut Ryan.
“Oh iya, gue lupa.” Refleks Ryan menjauhkan tangan Bagus dari mulutnya.
“Anyway, kalo dipikir – pikir kita bisa ketemu Pak Ramon buat direkrut masuk manajemennya karena hantu Nek Suripah. Kalo seandainya Nek Suripah bukan hantu, kita nggak bakalan kabur dan nggak bakalan ketemu Pak Ramon. Ya nggak?” Tanya El, memutar memori kejadian mengerikan malam itu.
“Benar juga. Tepatnya, Gara – Gara Goyang Oplosan. Kalau seandainya Nek Suripah nggak goyang oplosan, sampai sekarang pun kita nggak bakalan tahu kalau beliau itu hantu dan kita gak bakal ketemu Pak Roman.” Jelas Romy melengkapi.
“Kalian apaan sih pada ngomongin Nek Suripah? Dia itu kan hantu! HANTU! Jadi merinding gue!” Ucap Bagus sambil menekankan kata hantu.
Tiba – tiba, semilir angin pun berhembus kencang, meniup rambut Bagus, Ryan, Romy, dan El. Tengkuk mereka terasa dingin dan bulu kuduk mereka berdiri.
“Ada apa cu, kok pada bicarain nenek segala?” Terdengar suara lirih perempuan yang sepertinya sudah tak asing lagi bagi mereka.
“HUAAA!!!” Mereka berempat pun langsung ngibrit. Serem!
~THE END~
Haikz, ceritanya kok jadi alay bin gaje setengah mampus begindang yak? Maklum, saya sedang labil -_-
Anyway, dari cerita ini ada beberapa hal yg dapat kita petik, yaitu :
·
Nggak
semua sifat ke’fanatik’an itu buruk lho! Contohnya karakter D~VIENIGA’S ini. Mereka
sangat fanatic terhadap hal yang berbau Jepang. Di sisi lain, mereka juga bisa memanfaatkan
ke’fanatik’an mereka dengan baik, seperti: mendirikan latihan karate, kursus
Bahasa Jepang, & Restoran Masakan Jepang yg tentunya tidak hanya
menguntungkan diri sendiri juga menguntungkan orang lain. Pesan saya buat kamu
yg fanatic terhadap apapun, carilah manfaat atau kegunaan dari apa yang kamu
sukai, lalu terapkanlah pada kehidupan sehari – hari agar berguna untukmu
bahkan juga orang lain.
·
Contohlah
karakter Gank SAKEGIRO yg “ingin melindungi orang yg lemah”. Tapi jangan ambil
sifat negative mereka yg suka berkelahi.
Nu Dimension Goyang Oplosan
Nu Dimension : POKOKE JOGED!!!
SASUKE UCHIHA pun tak mau kalah untuk GOYANG OPLOSAN
Oke,
sekian cerpen dari saya. Mohon maaf apabila kepanjangan atau ada yg kurang
berkenan.
Don’t
forget to follow me on twitter, @ChasyaFF .
Terimakasih
& Semoga Bermanfaat :)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar