ASAL USUL DESA KRAMATIKUS
Desa merupakan
sekumpulan dari beberapa unit pemukiman kecil yang disebut perkampungan atau
dusun yang didalamnya terdapat kesatuan masyarakat yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat.Peranan desa dalam pembangunan wilayah sangat penting karena banyak
potensi yang dimilikinya. Pengembangan desa perlu mempertimbangkan potensi
desa. Suatu wilayah atau daerah dapat berpotensi menjadi sebuah desa asalkan
memiliki 2 potensi, yaitu potensi fisik dan potensi non fisik.
Di
Indonesia, orang yang memimpin desa disebut Kepala Desa. Di Madura, sebutan
untuk kepala desa dikenal dengan “Klebun”. Dalam artikel ini, saya akan
membahas tentang salah satu desa yang berada di kecamatan Bangkalan, yaitu Desa
Kramatikus.
Kramatikus. Mungkin jika kita hanya
sepintas mengartikan kata ini maka nama kramatikus memiliki arti “Tikus yang
Keramat”. Apakah seekor tikus keramat ini dapat mensugesti para warga sehingga
menjuluki kampungnya dengan nama Kramatikus? Lalu yang paling penting yaitu,
Apakah rata – rata populasi tikus di Bangkalan dinyatakan keramat? Daripada
pertanyaannya semakin ngelantur dan tidak nyambung pada ulasan utama maka
disini saya akan menjabarkan tentang sejarah asal – usul Desa Kramatikus.
Konon
pada zaman dahulu, terdapat sebuah Pondok Pesantren Al-Hidayah di sebuah
pemukiman warga yang hanya memiliki jalan setapak. Banyaknya santri dan
santriwati yang berniat menimba ilmu disana menandakan jika pondok pesantren
ini cukup populer di Bangkalan pada saat itu. Belum lengkap rasanya jika proses
belajar – mengajar tidak diimbuhi dengan tugas, tugas, dan tugas. Tak hanya di
sekolah formal pada umumnya, namun tugas juga sering mengiringi perjalanan
sukses para murid, tak terkecuali murid di pondok pesantren ini. Maka tak
jarang jika para santri dan santriwati ini bersuka rela mengorbankan apapun
untuk lembur hanya demi mengerjakan tugas tersebut sebaik mungkin.
Pada suatu malam, seorang santri
tengah berjalan melintasi jalan setapak yang berada di sekitar pondok
pesantren. Ia jenuh dengan kegiatan yang selama ini ia lakukan berulang – ulang
di pondok. Pada saat waktu yang bersamaan, seorang warga yang rumahnya dekat
dengan Pondok Pesantren itu berteriak panik. Rumahnya baru saja dimasuki maling
dan beberapa barang berharga miliknya sempat dibawa kabur maling itu. Teriakan
si korban kemalingan pun terdengar oleh tetangga – tetangganya, sebagian warga
kampung disana. Lalu, para warga pun segera bertindak dan berinisiatif untuk
mengejar maling itu sampai tertangkap, lalu dilaporkan ke pihak berwajib dan
dipenjara, begitu niat warga disana dengan maksud agar kampungnya tentram dan
damai.
Sekumpulan warga pun berlari ke
jalan setapak, namun mereka tidak menemukan sosok maling yang tengah mereka
cari. Mereka berlari menuju jalan yang searah dengan seorang santri yang tengah
asyik jalan - jalan dari Pondok Pesantren Al-Hidayah. Melihat seorang pemuda
berjalan sendirian di malam hari itu pun membuat sekumpulan warga menduga jika santri
tersebut adalah pelaku perampokan di rumah salah satu warga pada malam itu.
Lalu sekumpulan warga meneriaki santri tersebut sebagai malingnya. Bingung
dengan sebutan itu, si santri pun panik. Satu – satunya cara untuk menghindari
situasi gencar seperti itu adalah kabur. Si santri walau dalam keadaan tidak
bersalah pun ketakutan dan memutuskan untuk kabur dari pengejaran warga.
Sekumpulan warga pun tak ingin kecolongan, maka mereka terus mengejar santri
itu dan berusaha menangkapnya.
Santri
tersebut terus berlari, ia menoleh ke belakang dan melihat sekumpulan warga
terus mengejarnya. Melihat sudah tak ada jalan lagi yang bisa ia tempuh karena
di depannya terdapat sebuah pohon yang menghalangi jalannya, maka si santri pun
hendak memanjat pohon itu sambil berteriak bahwa dia bukan pelaku perampokan
itu. Namun sekumpulan warga tidak mempercayai pengakuannya karena kalau ia
bukan maling lantas mengapa ia kabur saat sekumpulan warga hendak
menghampirinya.
Masih
geram dengan pemuda yang diduga maling ini, seorang warga yang membawa senjata
tajam berupa celurit ini naik pitam dan membacok santri tersebut dan
serangannya berhasil mengenai kakinya. Darah mengucur di kakinya, si santri
yang tidak kuat menahan rasa sakitnya itu jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.
Darah yang terus mengucur deras itu mengundang segerombolan tikus liar disana
menghampiri sumber darah itu dan menggerogoti tubuh santri tak berdosa
tersebut.
Keesokan
paginya seorang warga menemukan segerombolan tikus yang tengah menggerogoti
sesuatu. Warga tersebut penasaran terhadap apa yang membuat segerombolan tikus
itu berkumpul di jalan setapak, ia pun menghampiri lokasi itu dan segerombolan
tikus itu pergi, takut dengan manusia. Warga pun terkejut melihat mayat yang
tidak diketahui identitasnya terbujur kaku disana. Warga pun menguburkan mayat
itu di tempat lokasi dimana mayat ditemukan.
Seiring
berkembangnya zaman, jalan setapak itu telah diperbarui dengan dilapisi aspal.
Makam santri tersebut hendak dipindah ke tempat pemakaman umum, namun saat
memindahkannya selalu saja ada halangan. Dari kejanggalan peristiwa ini, warga
menamai daerah sekitar situ dengan “Keramat Tikus” atau yang kita kenal dengan
desa Kramatikus, karena terdapat sebuah makam keramat yang di dalamnya terdapat
mayat yang meninggal karena tubuhnya digerogoti tikus.
Dari
kejanggalan peristiwa ini, warga menamai daerah sekitar situ dengan “Keramat
Tikus” atau yang kita kenal dengan “Desa Kramatikus”, karena terdapat sebuah
makam keramat di pinggir jalan yang di dalamnya terkubur mayat yang meninggal
karena tubuhnya digerogoti tikus.
Hingga
saat ini, identitas lengkap santri ini dan
pelaku perampokan rumah warga pada malam itu masih menjadi sebuah
misteri. Dan sampai saat ini, makam tersebut masih terletak di pinggir jalan
Desa Kramatikus.
Dari
artikel sejarah desa ini, kita dapat mengetahui bagaimana asal usul sebuah
tempat yang berada di Madura yang tentunya bermanfaat bagi kita untuk
mengetahui lebih dalam tentang Madura, khususnya Bangkalan. Dengan ini, saya
dapat menyimpulkan bahwa Desa Kramatikus berasal dari kata “Keramat Tikus”,
karena pada desa tersebut terdapat sebuah makam yang dikatakan keramat oleh
penduduk sekitar yang berlokasi di pinggir jalan perempatan dan mayatnya
meninggal karena digerogoti tikus.
Dari
artikel ini, saran yang bisa saya sampaikan yaitu masyarakat yang akan
menempati suatu wilayah atau daerah sebaiknyanya mengetahui informasi mengenai
tempat tinggal yang akan ditempatinya. Selain untuk menambah wawasan juga agar
masyarakat tersebut bisa menceritakan kepada keturunannya. Upaya ini juga
dilakukan untuk melestarikan hal yang berkaitan tentang Madura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar